Rabu, 28 November 2012

SAAT ORANG BEGO DI KANDANG MONYET ( Sesuatu banget bagian tiga [part 4])


Masih segment Author P!!! baca Woy! Part terakhir dari sesuatu banget! Cerita ini dibuat pas lagi qurban.... tapi baru ngepost sekarang. Apa? gak ada yang nanya? yaudah, baca aja!




 Tomcat Lovers, coy!|

 “Ka…kamu ngapain di situ?!”Rui yang kaget setengah mati memukul-mukul punggung Aoi yang penampilannya sudah sangat berantakan.
“Tu..tunggu! jangan pukulin aku terus, dong! Aku punya kabar buruk!”Aoi mencoba menghindar dari pukulan Rui.
“………”saking takutnya, Touko hanya diam saja duduk memandangi mereka berdua yang tengah asyik ribut-ribut ria.
“Denger, deh! Tadi aku ketemu Ayumi, katanya kita kena kutukan!”
“Hah? Masa! Kok bisa?”teriak Rui makin menjadi-jadi.
“Kalian ingat dua Minggu yang lalu? Kita pernah ketemu sama nenek tua di pinggir sungai dekat asrama, kan?”Aoi mengingatkan. Rui mengangguk. Touko gigit jari. “Nah, coba kita ingat-ingat apa yang telah kita perbuat, karena katanya nenek itu yang mengutuk kita”
Flashback
Aoi dan Rui sedang menyusuri indahnya malam Kota Tokyo saat itu. mereka tengah dalam perjalanan pulang dari super market (sebenarnya kalah suit sama yang lainnya). Tiba-tiba seorang nenek dengan berpakaian lusuh datang menghampiri mereka dengan membawa sarung jokowi dan guling.
‘Aduh, jangan ke sini, jangan ke sini… jijay banget tuh nenek. Kayaknya gembel yang di pasar baru, deh’ucap Rui dalam hati.
‘Bener, tuh. Mudah-mudahan jangan ke sini, mukanya udah ancur gitu, nyeremin. Ntar tahu-tahu kita dicekek, lagi’jawab Aoi dalam hati yang entah mengapa bisa nyambung sama Rui.
‘Ya, udah, mendingan pergi yuk!’Rui tidak memperdulikan nenek itu yang jalannya sudah sempoyongan.
“Nak, tungguin nenek”panggil nenek itu. Rui tidak memperdulikan nenek tersebut, namun berbeda dengan Aoi yang hatinya tidak tega.ia kembali menghampiri si nenek dan menawarkan bantuannya. Dengan terpaksa Rui mengikuti Aoi karena tidak mau pulang sendirian.
“Nak…bantu nenek, ya…”lirih nenek tersebut. “Temenin nenek, bobok, yuk!”lanjutnya lagi. Otomatis membuat Aoi dan Rui terkejut.
“Ih, kagak sudi! Kaburrrr….!”secepat kilat Aoi lari. Disusul dengan Rui yang pontang-panting membawa belanjaan yang dilempar Aoi begitu saja. Sedangkan si nenek berusaha mengejar mereka.
Tanpa menoleh ke belakang, Aoi dan Rui yang akhirnya bisa menyusul, berbelok ke sebuah gang kecil di pinggir kota. Rui merasa kesal karena harus membawa semua belanjaan dan di tinggal lari sama Aoi yang larinya cepat.
“Hoy, emangnya ane babu lo?! Bawa nih, belanjaanmu sendiri!”bentak Rui yang langsung melipat tangannya. Aoi hanya terkekeh.
Keduanya kini tidak khawatir lagi. Sepertinya nenek itu tidak dapat menyusul mereka. Mereka kembali berjalan pulang ke asrama. Tanpa ada rasa takut, mereka bersenda gurau, tanpa sadar, si nenek tadi ada dibelakang mereka sedang mengikuti.
“Waaaaaaa! Nenek itu lagi! Ayo Aoi, cepat lari!”teriak Rui begitu menyadari si nenek ada di belakangnya. Dengan cepat mereka kembali berlari menghindari si nenek, namun apa daya, mereka terlalu lelah untuk terus berlari, dan si nenek tuh staminanya luar biasa banget, kaya yang suka minum extra joss.
“Rui, aku capek, nih! mending kita temenin tuh nenek tidur aja, yuk!”ucap Aoi seraya berlari.
“Ogah! Lu aja! Dari pada gitu, mendingan ambil tuh lobak putih di keresek, terus lemparin ke si nenek gila itu!”
“Ah, benar juga! Ok, terima ini, nek! Syaaaatttt!”Aoi melemparkan beberapa lobak putih pada si nenek. Namun si nenek dapat mengelaknya seperti agen 007. Pokoknya tuh nenek keren abis, deh.
Aoi dan Rui kewalahan. Mereka sudah tidak punya senjata apa-apa lagi. Belanjaannya habis melayang di jalanan. Mereka hendak menyerah, namun begitu melihat sang nenek menabrak tiang listrik, mereka kembali bersemangat untuk melarikan diri.
***
“Apa kita sudah jauh?”tanya Aoi. Rui mengangguk. Setidaknya mereka lepas dari satu masalah.
“Tapi…. Kita gak bisa pulang”lanjut Aoi yang mukanya berubah lesu.
“Kenapa? Harusnya kamu seneng dong, si nenek udah gak ngejar lagi. Atau jangan-jangan kamu emang mau nemenin si nenek itu tidur?”
“Ih, amit-amit jabang monyet! Sambai lebaran Tomcat juga gak akan mau! Ngomong-ngomong, belanjaan anak-anak habis di jalan buat ngelemparin tuh nenek”
“Apa?! Ya ampun, kenapa tadi gak di sisain aja, sih? Kita jadi gak bisa makan seminggu!”
“Ah, benar juga! Aku gak kepikiran sampai situ, jadi aku lempar aja semuanya”jawab Aoi penuh dosa. “Kalau begitu, biar aku yang bilang pada teman-teman”
Mereka kembali berjalan pulang dengan lesu dan tampang kusut benang wol yang habis dimainin sama kucing. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan terkadang saling membuang muka. Namun beberapa saat kemudian datanglah si mahluk menghampiri mereka.
“Hooy! Kenapa, nih? wajahnya kok lesu gitu? Kalian habis belanja, kan? Mana belanjaannya? Oh, iya, tahu, gak? Aku tadi habis main di pasar baru sama yayangku. Terus pas pulang aku ketemu kalian, jadi sekarang kita pulang bareng, ya?”ucap Touko yang langsung merangkul pundak Aoi.
“Belanjaannya habis, terbuang di jalan”jawab Aoi dengan penuh penyesalan.
“Apa?! What?! You yang bener, You? Why? Tell me, tell me…. Saya sebagai ketua, harus tahu apa yang terjadi, you know?”tanya Touko yang lebay-nya selangit. Dan tanpa sadar, ia menginjak halaman rumah seorang janda, yang baru ditanami tanaman sayurnya.
“Aduh! Mati aku!”
“Hooooy!!!!! Tanamanku!!!! Tidaaaaaaak!!!! Awas, ya kalian! Ku kutuk kalian, dua Minggu lagi, kalian akan dihantui oleh hantu!!!!”teriak sang janda.
GLEGARRRR! JDARRR! DERRRR! DOOORRRR!
Petir seakan memberi effect pada teriakan si janda.
“APA?!”*kamera zoom in zoom out ke muka Touko, Rui, dan Aoi.
Flash Back END
***
“I..itu… ada glundung pringis!!! Hwaaaaa!!!!”Ritsu berlari meninggalkan Ren di kamarnya. Namun beberapa detik kemudian, bagaikan jet coaster yang sedang meluncur, Ren menyusul Ritsu sambil berteriak-teriak. Udah gitu, Ren malah lari-lari ngelilingin ruang tengah. Ritsu yang awalnya panik, jadi kesal dengan kelakuannya Ren.
“Hoy! Kalau kau terus begitu, aku tinggal, loh”
“Eh, jangan-jangan. Aku takut kalau sendirian, terus kita harus gimana? Ni asrama udah berhantu, apa yang harus kita lakuin? Mana gak bisa nonton Mpok Nori, lagi!”ucap Ren seraya berhenti berlari dan menghampiri Ritsu.
“Kita keluar aja dari asrama ini sampai yang lainnya datang”
“Ah, ide bagus!”
***
MINATO POV
Buset, dah! Tuh dua laki tega banget ninggalin aku yang cantik ini di sini. Mana serem banget lagi sekolah ini. Aku mencoba membangunkan sarden-sarden tewas ini agar cepat pulang. Tapi asli, bagaikan manusia mengangkat gunung, nih sarden-sarden susah banget dibanguninnya.
“Minato, apa yang kau lakukan di sini?”tanya seseorang di belakangku. Aku berbalik dan merasa lega dia adalah Michiko (Gita), bukan sesuatu yang aneh.
“Ah, bisakah kau bantu aku membangunkan mereka semua agar cepat ke asrama?”tanyaku. kulihat ia senyam-senyum sendiri.
“Hmmm…. Gak usah dibangunin, mending kita bawa aja mereka semua sekaligus”
“Ha? Gimana caranya?”
“Pake ini”jawabnya dengan ceria. Asal kalian tahu, ya.. yang dibawanya adalah gerobak sampahnya mang Otong #gubrakk. Dasar, dia itu terlalu polos, tapi bagus juga idenya, sekalian kita kerjain aja, heheheh…
“Ok, kita pake itu, tapi….. “ucapku menggantung, biar dia penasaran kayak yang di sinetron-sinetron gitu.
“Tapi apa?”
“Sebelum pulang, mari kita melukis”jawabku mantap
MINATO POV END
***
Suasana hening sejenak (sebenarnya emang dari tadi hening).
“Itu, sih, bukan neneknya yang ngutuk kita, tapi si jandanya”Touko membuka suara. Aoi dan Rui mengangguk.
“Sudahlah, pokoknya sekarang kita harus pulang. Tapi..ada yang tahu jalan pulangnya?”Aoi bingung.
“Tenanglah anak-anak, aku akan bersedia untuk membantu”ucap seseorang yang serba putih, parasnya cantik dan punya sayap bagaikan malaikat, tapi…. PAKE SENDAL!!!!
“Waaaaaaa! Siapa kau?!”teriak mereka bertiga serempak.
“Tenang, aku Bundadari, aku adalah sang penolong”
“Tapi kenapa kau mau menolong kami? Kan masih banyak yang kesusahan?”tanya Rui penasaran.
“Hmmm… benar juga, kenapa, ya?”#Gubraaakkk!!!!
“Ah, aku ingat, jadi begini ceritanya….”
Flash Back
Bundadari POV
Sepulangnya dari asrama 9-10, aku sama Ayumi langsung pulang ke stand peramal. Ayumi langsung duduk dengan sigap menanti pelanggan, dan aku langsung meyalakan TV, mau nonton Putri yang Ditukar.
“Bundadari! Bundadari!”Ayumi memanggil-manggilku. Ih, berisik banget! Lagi seru, nih..
“Apa?!”teriakku dari ruang TV.
“Belikan kecap, sana!”
“Ogah!”
“Ya sudah, kalau gitu gak usah makan!”
“Iye… iye… aye ngerti! Mana uangnya! Jangan lupa lebihin onkosnya, mau beli teh gelas”
“Noh…”Ayumi memberiku sepuluh ribu. Ih, pelit banget, kalau seginimah aku cuman dapet seribu, gak bisa beli oreo sama coki-coki juga!
Aku cepat-cepat berlari ke warung Bu Onoh, eh, sialnya udah tutup. Terpaksa aku harus ke Indomart di RW sebelah, tapi karena saking gelapnya, aku jadi nyasar kesebuah hutan yang amat lebat. Saat itu pula aku berjalan sendirian tanpa tahu arah, dan akhirnya aku bertemu dengan beberapa anak.
Bundadari POV END
Flash back End
“Itumah elu juga kesasar, bego!”ucap Touko dengan nada setengah oktaf.
“Mmm…. Iya juga, sih. Tapi kan kata author aku akan membantu kalian….”jawab bundadari dengan wajah memelas.
“Eh? Apa author? Maksudnya author P?”tanya Aoi penasaran. Bundadari pun mengangguk.
“Ih, mendingan jangan ada urusan sama author yang satu itu, nanti peran kalian dibikin ngenes, loh. udah lah, pokoknya turutin aja, ceritanya kia ditolong bundadari, terus berhasil keluar hutan dengan selamat”ucap Touko lagi.
Yah, pokoknya begitulah ceritanya.. GJ? Emang! Mau apa luh? Mau bilang Brot sambil mandiin nenek tetangga? Silahkan!
***
Di waktu yang sama, Ren dan Ritsu tengah sibuk mencari tempat bersembunyi yang menurut mereka aman. Mereka memanjat sebuah pagar yang tingginya 5 meter dengan menggunakan sepatu kaki cicak.
Iklan dulu!
SEPATU KAKI CICAK!
Dapatkan! Keluaran baru Ritsu Entertaiment!, sepatu kaki cicak.
Sepatu kaki cicak dapat membantu anda memanjat dinding setinggi apapun!
Memiliki cairan perekat yang sangat kuat untuk satu kali pemakaian!
Buruan deh, beli sekarang juga, edisi terbatas!
Untuk 10 pembeli pertama akan mendapatkan gelas cantik bergambar Big Dayoyet
Balik ke cerita!
Entah dinding apa yang mereka panjat, kini mereka sudah berada di dalamnya. Mencoba mengamati keadaan sekitar.
“Ritsu, apa tempat ini aman dari siswanti?”tanya Ren.
“Gak tahu, tapi kayaknya aku pernah liat tempat ini, deh”
“Iya, benar juga, tunggu….”Ren diam sejenak mengamati tulisan di sebuah papan dengan lampu-lampu di pinggirnya.
“Ritsu, lihat ini”
“Apa? Hah?! I…ini….”
“Kandang Monyet!”
Flashback
Ren POV
Aku dan Ritsu berlari meninggalkan asrama yang kena kutukan itu, entah mau pergi kemana, pokoknya lari dulu dan jangan lihat ke belakang. Kulihat Ritsu hanya memakai kaus kaki sebagai alas kakinya. Dasar bodoh, harusnya dia jangan terlalu panik, kayak aku gitu, walaupun ada kejadian seperti tadi, aku tetap tenang (dusta pada diri sendiri)
“Ritsu, hahaha…. Kamu gak pake sepatu, ya? apa saking takutnya sampai lupa pakai sepatu? Hahahaha…dasar bodoh!”ujarku meledek seraya berlari.
“Enak aja, siapa yang panik, kalau tadi kamu gak jenggut-jenggut rambut aku, pasti aku sempat memakai sepatu. Lagi pula yang bodoh itu kamu, seenaknya berkata seperti itu, tapi sendirinya gak pake apa-apa”jawabnya sambil terus berlari.
“Wah, benar juga!”teriakku yang baru menyadari hal itu. aku bertelanjang kaki! Kemana sepatuku? Seingatku, aku sudah pake lem tadi.
“Ngomong-ngomong, kita mau ke mana? Kita gak mungkin lari-lari terus sampai pagi, kan?”
“Ah, benar juga! Ayo ke kiri!”jawabku asal.
“Kau tahu daerah sana?”
“Tentu”jawabku mantap. “Sekarang ke kanan!”
“Aku agak meragukanmu”
“Udah, pokoknya ke kanan aja”aku sangat yakin. Ah, ternyata jalan buntu. Di situ hanya ada tembok besar. “Wah, saya salah besar”
“Huuuu….. udah, yang penting panjat dulu! Nih, kemaren aku beli sepatu kaki cicak di gang saleh, kebetulan belinya dua, dan belum dikeluarin dari tas”Ritsu memberikan sepatu anehnya itu padaku.
Flash back END
“Ka..kandang monyet?!”kataku masih tidak percaya. “Bagaimana, ini? Masa kita nyasar ke kandang monyet, sih?”tanyaku.
“Pantas saja aku pernah melihatnya, ini kan kandang monyet punya Pak Dayoyet, hmmm…”taelah, tu anak, bukannya khawatir, malah duduk sambil minum teh yang gak tahu dapet dari mana.
“Woy, kok malah santai, sih?! Kamu gak tahu, ya? kalau monyet-monyet peliharaan si bapak tuh segede gaban semua, kayak godzila!”
“Wah, masa? Terus aku harus bilang prĂȘt sambil nyulik kucing orang, gitu? Udah, bawa santai aja, mendingan ikut aku minum teh, nih”ucap anak dodol ini masih dengan santai.
“Ah, iya makasih”gak tahu kenapa bego gue lagi kumat. Aku ikut duduk di sebelahnya. Untuk beberapa saat, suasana sunyi. Aku dan Ritsu menikmati acara minum teh di alam liar ini.
“Hmm… ngomong-ngomong, tadi kamu bilang monyet di sini gede-gede?”tanyanya. aku mengangguk. “Apa monyetnya kayak gitu?”lanjutnya sambil menunjuk sesosok bayangan yang perlahan mendekat. Sekali lagi aku mengangguk.
“Buset! Itu emang monyetnya!”teriakku dan tidak sengaja menumpahkan teh-ku ke karpet yang entah darimana Ritsu dapat.
“Apa?! segede gitu?! Kenapa gak bilang dari tadi?!”Ritsu menyemburkan teh dari mulutnya.
“Sssssst… jangan ribut, sekarang kita panjat tembok ini aja lagi pake sepatu kaki cicak”ajakku.
“Kamu gak liat iklan tadi, ya? kan cuman buat satu kali pemakaian”jawab Ritsu dengan tatapan yang berarti ‘Anak ini bodoh, ya?’
GUBRAKK!!!!
“Kenapa kamu beli, kalau cuman bisa dipake sekali!”teriakku lagi kesal.
“Kalau pengen gimana? Kan situ bukan emak gue. Lagi pula jangan teriak keras-keras! Nanti monyetnya datang”Ritsu menjitak kepalaku.
“Aduh, iya maaf”
“Ini semua gara-gara kamu!”bisik Ritsu seraya masuk ke dalam semak-semak.
“Kok jadi aku, sih?”tanyaku sewot. Aku juga masuk ke dalam semak-semak tersebut.
“Habisnya kamu ngasih tahu arah sok tahu banget, sih! Rugi tadi aku nanya kamu!”Ritsu cemberut. Aku juga cemberut gak terima dengan kata-katanya.
“Loh, bukannya kamu yang ngusulin manjat pager kayak begini? Terus pake sepatu kaki cicak segala, yang cuman bisa satu kali pakai?! Itu yang paling fatal, tahu!”
“Sorry, waktu itu aku ngomongnya gak pake otak!”jawabnya dengan polos.
“Bego!”
“Lu yang bego! Lain kali jangan ngandelin aku!”
“Yeee….. lain kali jangan beli sepatu kaki cicak, lain kali langsung beli sepatu kaki tokek, biar bisa lima belas kali pemakaian”jawabku iseng.
“Sepatu kaki tokek belinya di mana? Kalau sampai lima belas kali pemakaian kayaknya mahal, tuh. Aku gak punya duit lagi”
“Bego! Mana ada yang begituan!”
“WOY! Nyadar, dong lu yang bego! Sekarang liat ke belakang, tuh! Kamu ngjinjek kotoran monyet!”WHAT??!!!!!!!! AAARRRGGGGHHH
Ren POV END
***
Ritsu POV
Cukup lama aku dan mahluk titisan tomcat ini menunggu pertolongan di kandang monyet. Aku sama sekali tidak mau berdebat dan dekat-dekat lagi dengannya semenjak ia menginjak kotoran monyet. Harus jarak 1 meter.
GUBRAK!!! KRESESESKK! BLAR!!! DOAAARR!!
Terdengar suara benda jatuh di belakangku dan Ren. Tunggu, aku pernah melihatnya!
“Ritsu… itu.. itu.. kan… orang yang tadi kita temui”
“Ya, aku ingat! Dan dia…masih juga….”
“PAKAI SENDAL!”teriakku dan Ren sambil menunjuk-nunjuk orang itu yang ternyata Bundadari disertai Rui, Touko, dan Aoi.
“Aduh, bundadari kalau terbang yang bener, dong!”protes Rui.
“Habisnya… kalau Touko gak gigit-gigit bulu sayap bundadari, bundadari gak akan nabrak tiang listrik tadi”bundadari membela diri.
“Mau gimana lagi? Ane takut ketinggian!”
“Siapa suruh, takut ketinggian!”giliran Aoi sekarang.
“……”aku dan Ren hanya diam melongo melihat mereka.
Udah, deh, pokoknya singkat cerita, aku, Ren, Rui, Touko, dan Aoi, numpang sayapnya bundadari yang udah miring-miring ke kanan terbangnya untuk kembali ke asrama.
Ritsu POV END
***
“Hah, akhirnya kita sampai juga di asrama”Touko melepas sepatunya.
“Aku mau langsung makan, ah”ucap Ritsu seraya melempar sepatu kaki cicaknya.
“Aku mau tidur”ucap Rui singkat.
“Aku mau dengerin lagu Big Dor, ah”Aoi memasuki pintu asrama.
“Aku mau nonton Mpok Nori”teriak Ren.
Mereka berlima pun langsung masuk asrama tanpa berterima kasih pada bundadari. Bundadari pundung dan langsung pulang tanpa membawa kecap.
“WAAAAAAAAAA!!!! Banyak mayat!!!!”teriak mereka berlima seraya berlari keluar asrama tanpa mengenakan sepatu. Gita dan Minato yang sedari tadi bersembunyi keluar dari balik gorden.
“Hahahahaha! Mereka lucu sekali! Padahal kita kan cuman nyorat-nyoret murid lainnya dengan lipstick”Minato tertawa terbahak-bahak.
“Hah? Emang kenapa kalau misalnya dicorat-coret? Aku nggak ngerti”jawab Gita polos.
“Au ah!”
***
Haaaaaa! Akhirnya dapat bernapas bebas! Akhirnya sesuatu banget berakhir juga! Sumpah capek banget! Oh, gak ada yang nanya, ya? biarin! Sekarang author pingin cuti dua minggu! Capek! Capek! Author N, situ aja yang ngegantiin ane, ok? #author N: Ogah! Gak sudi!
Pokoknya, BANZAI!!!!!! *lari-lari keliling RW liat sapi kurban.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar